Jakarta – Buku memoar Aurelie Moeremans berjudul Broken Strings mendadak jadi bahan obrolan di mana-mana dalam sepekan terakhir. Bukan karena kisah romansa manis atau perjalanan karier glamor, melainkan karena isi bukunya yang jujur, pahit, dan menusuk. Di dalam Broken Strings, Aurelie membuka lembaran hidupnya sebagai penyintas child grooming, pengalaman traumatis yang ia alami saat masih berusia 15 tahun.
Kejujuran itu rupanya memantik reaksi beragam. Buku ini viral, dibaca luas, lalu—seperti hukum tak tertulis internet—mulai berubah arah. Sejumlah netizen justru sibuk menebak-nebak siapa sosok nyata di balik karakter-karakter yang muncul dalam cerita. Nama Roby Tremonti ikut terseret setelah merasa ada kemiripan antara dirinya dan karakter Bobby dalam buku tersebut.
Tak berhenti di situ, publik juga ramai mengaitkan tokoh-tokoh lain seperti Jo, Mama Jo, Kelly, Milo, Zane, hingga Tom dengan figur tertentu di dunia nyata. Padahal, sejak awal, Broken Strings bukan ditulis sebagai teka-teki “siapa dia sebenarnya”, melainkan sebagai ruang berbagi luka dan proses berdamai dengan trauma.
Melihat diskusi yang mulai melenceng, Aurelie Moeremans akhirnya angkat bicara lewat akun Threads miliknya. Dengan nada tegas tapi tetap personal, ia meminta pembaca untuk menahan diri dan tidak berubah menjadi detektif dadakan.
“Please…. Aku mau minta satu hal notes penting soal Broken Strings. Tolong jangan membully atau menyerang karakter-karakter yang ada di dalam buku, apalagi kalau itu masih sebatas tebakan-tebakan,” tulis Aurelie Moeremans, Minggu (18/1/2026).
Aurelie mengaku, spekulasi yang berkembang justru membuatnya tidak nyaman. Alih-alih fokus pada pesan buku, perhatian publik malah tersedot ke asumsi yang belum tentu punya dasar kuat.
“Banyak asumsi di luar sana yang belum tentu benar, dan jujur aku nggak enak bacanya,” sambungnya.
Bintang film Story of Kale: When Someone’s in Love ini kemudian mengingatkan kembali tujuan utama ia menulis Broken Strings. Buku ini bukan panggung penghakiman, bukan pula ajang mencari kambing hitam, melainkan catatan jujur tentang luka batin dan upaya untuk sembuh.
“Fokus dari cerita ini bukan untuk mencari siapa-siapa di dunia nyata, bukan untuk menghakimi, apalagi mengeroyok. Fokusnya adalah pengalaman, luka, dan proses penyembuhan yang aku bagikan dengan sangat jujur,” ungkapnya.
Aurelie juga menanggapi kemungkinan ada pihak yang merasa atau mengaku sebagai karakter tertentu dalam bukunya. Menurutnya, itu adalah hak masing-masing individu. Namun, ia kembali menggarisbawahi satu hal penting: jangan menyerang siapa pun hanya berdasarkan dugaan.
“Kalau ada orang yang mengaku sendiri sebagai karakter tertentu, itu urusan masing-masing ya, kalian bebas berpendapat soal itu. Tapi kalau hanya menebak-nebak dan lalu menyerang, plis jangan,” tegas Aurelie.
Kini tengah menanti kelahiran anak pertamanya, Aurelie menutup pesannya dengan harapan sederhana namun penting: semoga ruang diskusi seputar Broken Strings tetap aman, sehat, dan penuh empati.
“Aku nulis buku ini bukan untuk menciptakan target baru buat di-bully. Aku menulis karena ingin membuka mata, memberi awareness, dan semoga bisa membantu orang lain yang pernah berada di posisi yang sama. Let’s keep this space kind, aman, dan penuh empati,” pungkasnya.