Jakarta – Buat kamu yang sering scroll media sosial, nama Willie Salim pasti sudah tidak asing lagi. Konten kreator berusia 23 tahun ini dikenal lewat video-video viral yang menampilkan aksi bagi-bagi uang atau giveaway ke warga lokal. Tapi belakangan, kontennya justru ramai diperdebatkan setelah muncul tudingan kalau giveaway tersebut hanyalah settingan.
Isu ini mencuat setelah seorang pria bernama Risky muncul di kanal YouTube Denny Sumargo. Dalam wawancaranya, Risky mengaku pernah terlibat langsung sebagai talent dalam salah satu konten Willie Salim. Dari pengalaman itu, ia menyimpulkan bahwa proses giveaway yang ditampilkan di video tidak sepenuhnya spontan.
“Menurut saya setting-an, karena awalnya kita perjanjian dulu sama dia. (Perjanjian) saya sama pihak orang yang kerja di Willie,” kata Risky.
Risky kemudian membagikan cerita di balik layar proses syuting. Menurutnya, ia tidak secara kebetulan bertemu Willie Salim di jalan. Sebelum pengambilan gambar, ia sudah dihubungi oleh seseorang yang disebut sebagai asisten Willie. Dalam konten tersebut, Risky diminta berperan sebagai driver ojek online yang sedang menunggu orderan.
Alur ceritanya pun sudah disiapkan. Dalam video, Risky digambarkan seolah bertemu Willie Salim secara tidak sengaja. Dari situ, giveaway pun dimulai dengan misi tertentu.
“Awalnya bilang, ‘Mas cariin saya pisang sama pohonnya kalau bisa saya kasih dua juta’,” ujar Risky.
Ia mengaku dibantu oleh tim produksi untuk mencari pohon pisang di sekitar lokasi. Bahkan, menurut Risky, pihak tim sudah lebih dulu berkoordinasi dengan pemilik kebun sebelum proses syuting dilakukan.
Setelah semua adegan selesai dan konten tayang, Risky memang menerima uang Rp 2 juta seperti yang terlihat di video. Namun, klaimnya, uang tersebut bukan benar-benar menjadi miliknya.
Menurut pengakuan Risky, uang giveaway itu harus dikembalikan setelah syuting selesai. Hal inilah yang kemudian memicu anggapan bahwa konten giveaway Willie Salim bersifat settingan.
Menanggapi tudingan tersebut, Willie Salim akhirnya buka suara lewat media sosial pribadinya. Ia menjelaskan bahwa kontennya menggunakan format hiburan tertentu yang umum dipakai dalam dunia digital.
“Ada yang namanya storytelling, dramatization, dan re-enactment. Itu adalah format hiburan untuk menyampaikan cerita, bukan niat untuk menipu atau merugikan siapa pun,” tegas Willie Salim.
Ia juga menekankan bahwa dirinya tidak pernah berniat membohongi publik terkait hadiah dalam kontennya. Meski begitu, Willie mengakui bahwa di lapangan bisa saja terjadi perbedaan antara konsep konten dan realita.
Willie turut menyinggung secara spesifik soal konten yang melibatkan Risky. Menurutnya, video tersebut merupakan konten lama yang diproduksi sekitar tiga tahun lalu.
“Satu prinsip yang aku pegang: aku tidak pernah berniat membohongi soal hadiah atau merugikan orang lain. Kalau dalam perjalanan ada perbedaan antara yang disampaikan di konten dan yang terjadi di lapangan, itu jadi evaluasi buat aku. Konten yang banyak dibahas merupakan konten tahun 2023 dan itu bagian dari proses belajar aku,” lanjutnya.
Di akhir klarifikasinya, Willie Salim menyebut dirinya terbuka terhadap kritik sebagai konten kreator. Namun, ia menyayangkan jika kritik tersebut berubah menjadi doxing yang menyerang ranah pribadi.
Perdebatan soal konten giveaway dan dugaan settingan ini pun kembali membuka diskusi soal batas antara hiburan, kreativitas, dan transparansi dalam dunia konten digital yang semakin kompetitif.